Materi ceramah sesuai Bulan Hijriyah

Senin, 27 Maret 2023

Ok Tiga Kunci Sukses Menjadi Orang Bertakwa Di Bulan Ramadhan*

 *

*Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA*


Telegram :

https://t.me/joinchat/FyAKQzHhxoA1NzM1


Allâh Azza wa Jalla telah mewajibkan ibadah puasa bulan Ramadhan atas umat Islam, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla juga telah mewajibkannya atas umat-umat sebelumnya. Fakta ini membuktikan betapa ibadah puasa sangat penting bagi kehidupan beragama setiap umat. Karena itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ibadah puasa atas kamu sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. [Al Baqarah/2:183].


Telah sekian kali kita berpuasa Ramadhan, walau demikian hingga kini nilai-nilai takwa dalam diri kita seakan tidak pernah bertambah. Padahal pada ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa dengan berpuasa idealnya kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Mungkinkah ayat di atas tidak lagi relevan dengan kondisi kehidupan umat manusia di zaman ini? Tentu sebagai seorang Muslim, kita meyakini bahwa ayat-ayat al-Qur`ân senantiasa relevan dengan berbagai perkembangan zaman hingga Hari Kiamat.


Hanya ada satu kemungkinan atau jawaban atas kondisi yang sedang terjadi pada diri kita saat ini. Adanya kekurangan dan khilaf dalam menjalankan ibadah puasa, sehingga nilai-nilai takwa kurang kita rasakan walaupun kita telah berpuasa untuk sekian lamanya.


Fenomena yang ada pada diri kita ini sudah sepantasnya cepat-cepat kita benahi, agar segera terjadi perubahan ke arah yang positif. Harapannya, puasa bulan Ramadhan yang akan datang, semoga kita masih berkesempatan mendapatkannya- kondisi kita telah berubah.


*Sebatas renungan saya yang terbatas ini, ada tiga pelajaran penting yang dapat kita petik dari ibadah puasa agar nilai-nilai takwa segera terwujud dalam diri kita:*


*1. Puasa Adalah Media Training Center Bagi Pola Pikir Dan Perilaku Umat Islam.*


Dalam kondisi haus dan lapar di siang hari selama bulan Ramadhan, seakan semua makanan dan minuman terasa lezat dan segar. Tak ayal lagi, bayangan menikmati lezat dan segarnya berbagai makanan mendorong kita untuk membuatnya dan membelinya. Bahkan sering kali kita hanyut dalam badai ambisi untuk menguasai semuanya seorang diri. Akibat dari sikap hanyut dalam badai ambisi ini, sering kali kita lupa daratan, sehingga membuat makanan melebihi dari kebutuhan.


Namun ketika matahari telah terbenam, hanya sedikit yang kita konsumsi dan bahkan banyak dari makanan yang terlanjur dibuat atau dibeli tidak tersentuh sama sekali.


Bahkan lebih parah dari itu, sebagian kita walaupun tetap bernafsu untuk makan, hingga seluruh rongga perutnya penuh, namun tetap saja masih tersisa hidangan yang melebihi apa yang telah ia konsumsi.


♥️Perilaku semacam inilah salah satu faktor yang menjauhkan nilai-nilai takwa dari diri kita. Andai selama bulan puasa kita meluangkan waktu sedikit saja untuk memikirkan sikap yang benar dalam hal makan dan minum, niscaya kita terhindar dari kondisi-kondisi semacam yang diungkapkan di atas.


Untuk urusan makan dan minum, sejatinya yang benar-benar kita butuhkan jauh dari yang selama ini kita makan. Dan tentunya jauh dari apa yang selama ini kita olah atau kita beli. Buktinya, setiap hari kita membuang atau paling kurang terpaksa menyingkirkan banyak makanan hingga akhirnya rusak atau basi.


Andai kita semua mengindahkan teladan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan makan dan minum, niscaya kita semua menjadi orang-orang yang bertakwa. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرَّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْب ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يَقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ


“Tidaklah ada kantung yang lebih buruk untuk engkau penuhi dibandingkan perutmu sendiri. Sejatinya engkau cukup memakan beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang rusukmu. Andai engkau tetap ingin makan lebih banyak, maka cukuplah engkau memenuhi sepertiga perutmu dengan makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk ruang pernafasanmu.” [HR. at-Tirmidzi dan lainnya].


*Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa dalam urusan makan, kita dihadapkan kepada tiga hal:*


*1. Ambisi.*


*2. Kemampuan memakan atau memiliki.*


*3. Kebutuhan yang sejati.*


Hadits ini mengajarkan kepada kita agar dalam urusan makan dan minum kita mengikuti standar kebutuhan dan tidak menuruti kemampuan apalagi ambisi.


Untuk urusan kemampuan memakan, masing-masing perut kita memiliki daya tampung yang berbeda-beda, dan masing-masing kita mampu untuk memenuhi seluruh ruang perut kita. Namun, Anda juga sadar bahwa penuhnya ruang perut Anda pastilah mendatangkan masalah, bahkan menjadi ancaman tersendiri bagi kesehatan kita.


Demikan juga bila kita berbicara tentang ambisi, maka setiap dari kita memiliki ambisi masing-masing. Dan saya yakin Anda sendiri juga tidak memiliki batasan yang jelas apalagi menghentikan ambisi Anda terhadap makanan lezat dan minuman enak.


Kalaupun Anda telah menikmati makanan dan minuman yang paling lezat, namun tetap saja ambisi Anda terus melaju. Selama hayat masih di kandung badan, Anda pasti masih berselera dan berambisi untuk menikmati makanan dan minuman yang lezat. Hanya ada satu hal yang dapat menghentikan ambisi kita, yaitu ajal alias kematian.


Kondisi serupa juga terjadi pada ambisi kita pada ambisi kita terhadap berbagai kenikmatan dunia lainnya. Karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ ثَالِثٌ وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ


“Andai manusia telah memiliki dua lembah emas, niscaya ia masih berambisi untuk memiliki lembah ketiga. Dan tiada yang daat memenuhi mulut (menghentikan ambisi) manusia selain tanah kuburannya. Sedangkan Allâh senantiasa menerima taubat setiap orang yang sadar dan kembali kepada-Nya.” [Muttafaqun ‘alaih dan at-Tirmidzi].


Setiap sore hari, selama bulan puasa, Anda senantiasa berhadapan dengan ketiga hal di atas. Dan akhirnya sering kali Anda terpaksa berhenti pada batas kebutuhan Anda. Betapa tidak, setelah Anda meneguk segelas air sekejap, ambisi Anda dan kemampuan Anda seakan sirna. Ternyata segelas minuman mampu menjadikan Anda berpikir dengan jernih tentang makanan dan minuman. Sejatinya, makanan yang Anda butuhkan jauh lebih sedikit dari yang mampu Anda sajikan, apalagi dari yang Anda bayangkan.


Andai pelajaran penting ini benar-benar Anda hayati dan terapkan dalam hidup Anda, niscaya Anda menjadi orang yang bertakwa. Dengan semangat puasa ini, Anda mampu membedakan antara kemampuan dan kebenaran. Ternyata dalam hidup di dunia ini, kita semua dituntut untuk membedakan antara kebenaran dengan kemampuan apalagi ambisi. Tidak semua yang kuasa kita lakukan kemudian kita lakukan. Sebagai orang yang bertakwa, kita berpikir jernih dalam setiap kondisi sehingga senantiasa bersikap dengan benar dan berguna dalam setiap kondisi.


Pendek kata, dengan semangat puasa kita senantiasa sanggup mengontrol ucapan dan perbuatan kita. Anda senantiasa menimbang ucapan dan perbuatan Anda, walaupun dalam kondisi sulit, semisal ketika emosi Anda dipancing atau harga diri Anda dinodai orang lain.


Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan arahan kepada umatnya melalui hadits qudsi berikut:


وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ امْرَؤٌ صَائِمٌ


“Ibadah puasa adalah sebuah perisai, sehingga bila engkau sedang berpuasa hendaknya engkau menghindari perbuatan keji, dan berteriak-teriak. Bila ada seseorang yang mencelamu, atau memusuhimu, hendaknya engkau (menahan diri dan) berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku orang yang sedang berpuasa”. [Muttafaqun ‘alaih].


Andai pengalaman-pengalaman yang terulang setiap kali berbuka puasa ini Anda terapkan pada setiap aspek kebutuhan Anda di dunia ini, niscaya Anda menjadi orang yang benar-benar bertakwa. Namun, apa boleh dikata bila ternyata selama ini pelajaran berharga ini selalu berlalu begitu saja, dan bahkan sering kali Anda keluhkan untuk kemudian Anda lupakan. Wallâhul Musta’ân.


*2. Berpuasa Hanya Di Siang Hari.*


Seluruh umat Islam di berbagai belahan bumi sepakat bahwa puasa dalam Islam hanya dijalankan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari, umat Islam masih tetap bebas untuk makan dan minum. Hal ini selaras dengan firman Allâh Azza wa Jalla berikut:


فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ


Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allâh untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. [Al-Baqarah/2:187]


Ketentuan berpuasa pada siang hari sepanjang sejarah Islam tidak pernah ada yang menggugatnya. Padahal zaman telah berkembang, dan tuntutan perkembangan zaman semakin kompleks. Walau demikian, tetap saja umat Islam sepakat bahwa puasa dalam Islam hanya bisa dijalankan pada siang hari, sedangkan pada malam hari semuanya berhenti dari berpuasa. Semua umat Islam dalam urusan ini menerima dan patuh sepenuhnya dengan ketentuan yang diajarkan dalam al- Qur`ân dan Sunnah, tanpa ada rasa keberatan sedikit pun. Sebagaimana puasa wajib hanya dijalankan di bulan Ramadhan, dan pada hari pertama bulan Syawal seluruh umat Islam merayakan Idul Fitri dengan menikmati makanan dan minuman alias berhenti dari berpuasa.


Maha Besar Allâh Azza wa Jalla yang telah menjadikan berhenti dari makan dan minum di bulan Ramadhan sebagai ibadah dan sebaliknya menjadikan makan dan minum sebagai ibadah pada hari raya. Adanya perbedaan hukum makan dan minum ini menjadi bukti dan pelajaran penting bagi umat Islam agar dalam hidup terlebih dalam urusan ibadah sepenuhnya berserah diri dan patuh kepada tuntunan syariat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .


Karena itu salah satu indikator ibadah puasa yang baik adalah dengan menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur. Salah satu hikmah dari ketentuan ini ialah untuk semakin mengukuhkan arti kepatuhan kepada perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya n . Ketika fajar telah terbit seketika itu pula Anda berhenti dari makan dan minum, walaupun Anda masih berselera untuk makan atau minum. Sebaliknya, ketika matahari terbenam, saat itu pula Anda berhenti puasa, walau Anda masih kuat dan mungkin merasa lebih mantap atau hebat bila meneruskan puasa hingga malam. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ


“Umat Islam akan senantiasa berjaya selama mereka menyegerakan buka puasa mereka“. [Muttafaqun ‘alaih].


Ibadah puasa Ramadhan seyogyanya menumbuhkan kesadaran untuk patuh sepenuhnya dengan syariat Allâh dalam segala aspek kehidupan kita. Hanya dengan cara inilah nilai-nilai takwa yang sejati dapat terwujud dalam diri Anda. Allâh Azza wa Jalla berfirman:


إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allâh dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [An-Nûr/24:51]


*3. Berpuasa Hanya Karena Allâh Azza Wa Jalla.*


Ibadah puasa dengan menahan lapar dan haus semakin membuktikan betapa besar karunia Allâh Azza wa Jalla kepada umat manusia yang telah memberikan rezki makanan dan minuman. Nikmat Allâh Azza wa Jalla berupa makanan dan minuman semakin terasa nikmat di bulan Ramadhan, sehingga wajar bila bisnis kuliner di bulan Ramadhan laris manis.


Namun senikmat apapun makanan yang Anda miliki dan sesegar apapun minuman yang ada di hadapan anda, semuanya Anda tinggalkan sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.


Anda melakukan itu semua bukan karena sedang sakit, atau tidak mampu membelinya atau telah bosan mengkonsumsinya. Semua itu Anda lakukan hanya keran mengharapkan pahala dari Allâh Azza wa Jalla . Inilah satu-satunya semangat dan motivasi Anda dalam menjalankan ibadah puasa, sebagaimana ditegaskan dalam hadits qudsi berikut:


قَالَ اللهُ : “كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ “.


Allah berfirman, “Seluruh amalan anak manusia adalah miliknya, kecuali puasa. Sejatinya puasa adalah milik-Ku, dan hanya Aku yang mengetahui balasannya”. [Muttafaqun ‘alaih].


Demikianlah seharusnya kita bersikap selama hidup di dunia. Semua aktifitas kita, baik ucapan atau perbuatan ditujukan hanya untuk Allâh Azza wa Jalla :


قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ


Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allâh, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allâh)”. [Al-An’âm/6:162-163].


Anda menyadari bahwa segala bentuk keuntungan dunia hanyalah semu dan sesaat lagi pastilah Anda tinggalkan. Sebagaimana Anda juga beriman bahwa segala manfaat dan mudharat ada di Tangan Allâh Azza wa Jalla . Kesadaran ini menjadikan Anda pupus pamrih dari selain Allâh Azza wa Jalla.


تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا ﴿١﴾ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا


Maha Suci Allâh yang telah menurunkan al-Furqân (al-Qur`ân) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya..” [Al-Furqân/25:1-2].


Pada saat yang sama, Anda juga beriman sepenuhnya bahwa keberadaan Anda di dunia ini untuk mengabdikan diri kepada Allâh Azza wa Jalla . Hanya dengan pengabdian kepada Allâh Azza wa Jalla inilah hidup Anda menjadi berarti. Allâh Azza wa Jalla berfirman:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. [Adz-Dzâriyât/51:56-57]


Andai ketiga hal di atas benar-benar Anda aplikasikan dalam hidup anda, niscaya Anda menjadi orang yang bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla. Semoga Allâh Azza wa Jalla membenahi kondisi kita, dan memberikan kesempatan untuk menikmati indahnya puasa bulan Ramadhan di masa-masa yang akan datang, Âmîn. Wallâhu Ta’ala A’lam


*[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014.. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]*


*Referensi :*

 https://almanhaj.or.id/32665-tiga-kunci-sukses-menjadi-orang-bertakwa-di-bulan-ramadhan.html

Minggu, 26 Maret 2023

3 Penyebab pahala puasa gugur

1

                                             2
 
                                                4

                                                5
                                          3
 

Rabu, 22 Maret 2023

TANDA2 RAMADAHAN YANG DI TERIMA*

Imam Ibnu Rajab رحمه الله berkata :


أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها

"Kembali berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda2 diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena sesungguhnya Allah itu apabila menerima amalan seorang hamba, maka Allah akan memberinya taufik untuk beramal shalih setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama : "Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya". Maka barangsiapa yang telah melakukan kebaikan kemudian diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu adalah tanda2 bahwa amalan kebaikannya yang pertama diterima. Sebagaimana barangsiapa yang melakukan kebaikan lalu diikuti (setelahnya) dengan kejelekan, maka itu adalah tanda tertolaknya kebaikan itu dan tidak diterimanya" (Lathaa-if Al-Ma’aarif hal 388)

Di antara kebaikan-kebaikan sebagai tanda2 diterimanya amal ibadah Ramadhan adalah :

(1). Semakin cinta kepada segala kebaikan dan ketaatan, dan semakin mudah & ringan untuk bisa istiqamah mengamalkannya

(2). Semakin benci kepada perbuatan dosa & kemaksiatan, serta semakin mudah & ringan untuk bisa meninggalkannya

(3). Senantiasa bersedih tatkala terluput atau terlalaikan dari suatu amal shalih, baik yang wajib atau pun yang sunnah

(4). Orang tersebut semakin mulia akhlaknya

(5). Semakin bersih hatinya, khusyu', mudah tersentuh, serta cepat meneteskan air mata karena takut kepada Allah

(6). Selalu berusaha mengikuti syariat yang telah dicontohkan serta diamalkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya

(7). Senantiasa menjadikan perkara akhirat lebih diperdulikan daripada perkara duniawi, dari sisi waktu, tenaga, fikiran, harta, dll

Sabtu, 18 Maret 2023

Agenda Salafush Sholih di Bulan Ramadhan (1

*Ahmad Anshori, Lc*

https://muslim.or.id/25737-agenda-salafush-sholih-di-bulan-ramadhan-1.html

Ramadhan tak lama lagi menyapa. Rindu insan-insan Mukmin yang terpendam selama 11 bulan, segera terobati dengan tibanya tamu mulia ini. Bulan yang penuh kebaikan. Pahala dilipat gandakan tak terhitung batasnya. Setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup. Bulan ampunan dan rahmad. Di bulan ini terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, sarana alternatif untuk meraup pahala yang banyak, ditengah singkat umur umat akhir zaman.

Selalu saja decak kagum menghampiri, saat membaca kisah para salafus shalih (orang-orang sholih terdahulu). Jejak kehidupan hamba-hamba Allah yang jujur. Hari-hari mereka sibuk dengan amal kebajikan. Seperti mustahil amalan dahsyat itu dilakukan oleh manusia. Namum mereka manusia, sebagaimana kita juga manusia. Mereka bisa, kitapun punya peluang untuk bisa, dengan taufik dan bimbingan dari Allah ‘azzawajalla.

Bila ingin memcari inspirasi, kisah hidup mereka amat pantas dijadikan bahan. Membaca biografi mereka, menumbuhkan secercah semangat untuk menghadapi kehidupan ke depan, menjadi insan yang lebih baik dan meninggalkan kenangan-kenangan indah di kehidupan fana, sebelum melangkah bertemu Sang Pencipta.


Tidak berlebihan bila sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan,


من كان منكم مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم، كانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً، وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم في آثارهم، وتمسكوا بما استطعم من أخلاقهم ودينهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم


“Siapa diantara kalian yang ingin mencari teladan, carilah teladan dari orang-orang yang sudah meninggal. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup itu tidaklah aman dari fitnah (ketergelinciran). Mereka adalah shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi termulia dari umat ini. Yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling anti berlebihan dalam tindakan.


Allah memilih mereka untuk menjadi sahabat nabiNya. Demi menegakkan agamaNya. Maka akuilah keutamaan mereka. Ikutilah prinsip mereka. Dan contohlah budipekerti mereka semampu kalian. Karena sungguh mereka berada di atas petunjuk.”(Dinukil oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya: Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih).


*Lebih-lebih di bulan mulia seperti Ramadhan, saat pahala dilipat gandakan lebih daripada bulan-bulan lain, maka kita dapati hari-hari mereka penuh dengan kegiatan ibadah dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama. Banyak riwayat yang mengisahkan kesungguhan mereka dalam beribadah di bulan penuh berkah ini. Berikut beberapa kegiatan mereka di bulan ramadhan:*


*1. Memperbanyak sholat malam.*


Karena Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه


”Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 2008, dan Muslim, no. 174)


Diriwayatkan bahwa Umar bin Khotob radhiyallahu’anhu, menghidupkan malam ramadhannya dengan shalat semampu beliau. Sampai bila tiba tengah malam, beliau membangunkan keluarga beliau supaya bersama menjalankan sholat. Saat membangunkan, biasanya Umar mengatakan,


“Shalat…shalat…“


Seraya membaca firman Allah,


وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ


“Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (Qs. Toha: 132)


Suatu hari Ibnu Umar membaca ayat,


أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّه


Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. (Qs. Az Zumar: 9)


Karena saking istiqomahnya sahabat Utsman bin Affan mengerjakan sholat malam, Ibnu Umar sampai menafsirkan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah Ustman radhiyallahu’anhu. Ibnu Abi Hatim mengatakan,


وإنما قال ابن عمر ذلك لكثرة صلاة أمير المؤمنين عثمان وقرائته حتى أنه ربما قرأ القرآن في ركعة


“Ibnu Umar menjelaskan demikian, karena Amirul Mukmini; Utsman sering melakukan shalat malam dan banyak membaca Al Qur’an. Bahkan dikatakan seakan beliau membaca Al Qur’an seluruhnya dalam satu raka’at.”


*2. Memperbanyak sedekah*


Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma bercerita tentang kedermawan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di bulan ramadhan,


كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan; saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)


Dalam hal meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, para Salafush Sholih adalah orang yang paling terdepan. Oleh karenanya, kita dapati riwayat-riwayat yang menjelaskan kedermawanan mereka di bulan ramadhan. Seperti halnya Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, beliau tidaklah berbuka kecuali memanggil anak-anak yatim dan orang-orang miskin untuk buka bersama.


Abu Suwar Al ‘adi menceritakan, “Orang-orang dari Bani ‘Adi biasa sholat di masjid ini. Mereka tidak pernah berbuka sendirian. Bila ada orang yang bisa diajak berbuka di rumah, mereka baru makan. Bila tidak ada, maka mereka keluarkan hidangan makanan ke masjid, hingga para jamaahpun berbuka bersamanya.”


Terlebih dalam ibadah sedekah, terkandung ibadah lain yang besar pahalanya. Diantaranya memupuk rasa kasih sayang sesama muslim, dimana amalan ini adalah sebab masuk surga. Seperti dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,


لن تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا و لن تؤمنوا حتى تحابوا


“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan tidak akan menjadi orang mukmin kecuali kalian saling mencintai.” (HR. HR. Muslim)


Dan memberi makan buka untuk orang yang puasa, juga amalan yang tak ringan pahalanya. Nabi shallallahu alaih wasallam bersabda,


مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا


“Barangsiapa yang memberi buka puasa orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan semisal pahala orang yang puasa itu; tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun.” (HR. Tirmidzi).


*3. Banyak membaca Al Qur’an.*


Sebagaimana kita ketahui, bulan ramadhan adalah bulan Al Qur’an (Syahrul Qur’an). Nabi kita; Muhammad shallallahu ‘ alaihi wa sallam menyimakkan hafalan Quran beliau kepada malaikat Jibril di bulan ramadhan. Ustman bin Affan, ketika ramadhan mengkhatamkan Al Qur’an sekali dalam sehari. Sebagian Salafush Sholih mengkhatamkan dalam tiga hari. Ada pula yang mengkhatamkan dalam seminggu. Mereka membaca Al Qur’an baik ketika shalat maupun di luar shalat.


Qotadah rahimahullah biasa menghatamkan Al Qur’an dalam seminggu. Namun untuk bulan ramadhan, beliau menghatamkannya dalam tiga hari. Saat sepuluh hari terakhir, beliau khatamkan dalam satu malam. Imam Az Zuhri rahimahullah, apabila tiba ramadhan beliau meliburkan rutinitas membaca hadis. Lalu beliau habis waktu untuk membaca Al Qur’an. Inilah Sufyan Ats Tsauri rahimahullah, apabila masuk bulan ramadhan beliau meliburkan ibadah-ibadah lain (yang sunah), kemudian beliau curahkan semua waktu untuk membaca Al Qur’an.


Ibnu Rojab rahimahullah menerangkan,


وإنما ورد النهي عن قراءة القرآن في أقل من ثلاث على المداومة على ذلك ، فأما في الأوقات المفضلة كشهر رمضان خصوصاً الليالي التي يطلب فيها ليلة القدر، أو في الأماكن المفضلة كمكة لمن دخلها من غير أهلها فيستحب الإكثار فيها من تلاوة القرآن اغتناماً للزمان والمكان ، وهو قول أحمد وإسحاق وغيرهما من الأئمة


“Ada riwayat yang menerangkan larangan mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari. Namun pada waktu-waktu mulia seperti bulan ramadhan, lebih-lebih di malam-malam terdapat lailatul qodr, atau di tempat-tempat mulia seperti Mekah; bagi pengunjung yang tidak menetap di sana, dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al Qur’an. Dalam rangka optimalisasi waktu dan tempat yang mulia. Inilah pendapat Ahmad bin Hambal, Ishaq dan para imam lainnya” (Latoiful Ma’arif hal. 171).


*Berlanjut InsyaAllah…*


*Ditulis oleh: Ahmad Anshori*


*Art

Kamis, 16 Maret 2023

TANDA - TANDA ORANG YANG MENDAPAT QOBUL DIBULAN SUCI RAMADHAN*

https://t.me/joinchat/dy286onyR2FhZWU1

_Telah berkata Sayyidil Habib Zein Hafidzahullah_

*tanda-tanda nya adalah*:
- *sebelum ramadhan* senantiasa tidur sesudah shubuh *setelah ramadhan* menjadi tidak tidur dan senantiasa berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari

- *sebelum ramadhan* tidak melaksanakan ibadah qiyamul lail *setelah ramadhan* senantiasa qiyamul lail

- *sebelum ramadhan* tidak menjaga shalat berjamaah *setelah ramadhan* senantiasa shalat berjamaah

- *sebelum ramadhan* tidak mencintai ilmu dan ulama *setelah ramadhan* menjadi pecinta ilmu dan ulama

- *sebelum ramadhan* tidak menjaga shalat dhuha, witr dan rawatib *setelah ramadhan* menjadi orang yang senantiasa menjaganya

- *sebelum ramadhan* senang melihat perkara yang haram *setelah ramadhan* menjadi seorang yang takut kepada Allah dan menundukan pandangan dari yang haram

- *sebelum ramadhan* gemar berbohong dan  ghibah *setelah ramadhan* taubat dari perbuatan tersebut

- *sebelum ramadhan* durhaka kepada kedua orang tua *setelah ramadhan* menjadi seorang anak yang senantiasa berbakti dan menunaikan hak - hak kedua orang tua

- *sebelum ramadhan* dia memutuskan tali rahimnya *setelah ramadhan* ia senantiasa menyambungnya

- dan seperti inilah dirinya di dalam setiap kebaikan, ia menjadi lebih baik

*Maka ini adalah tanda - tanda seseorang yang diterima amal ibadahnya dibulan suci ramadhan dan tanda dirinya  dibebaskan dari api neraka*

Dan barang siapa bersifat sebaliknya *_naudzubillah_* maka dialah seseorang yang *mahrum (diharamkan)* dari kebaikan, sangat merugi dan kehilangan segalanya.
Tidak ada peningkatan dalam kualitas ibadahnya dan tidak mencapai level yang  lebih baik, dia telah membuang umurnya dalam keadaan sia-sia, yang mana seharusnya dia meningkat dan melangkah ke depan namun malah berbalik mundur ke belakang.

Sebagaimana dikatakan :
_"Barang siapa yang mencari kemajuan (dalam kebaikan) maka dia akan maju dan barang siapa yang menginginkan kemunduran dia akan mundur"_.

*Disusun dan ditulis oleh bahits : Umar Sumaith*

https://t.me/joinchat/6s99Gt_bf8kxYzE9
tanda -tanda mendapat lailatul qadr disertakan ayat dan hadits detail
ChatGPT bilang:
ChatGPT

Lailatul Qadr adalah malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits. Berikut adalah tanda-tanda Lailatul Qadr beserta dalilnya:

Tanda-Tanda Lailatul Qadr

  1. Udara dan Suasana Malam yang Tenang Rasulullah ﷺ bersabda:

    "Lailatul Qadr adalah malam yang tenang, tidak panas, tidak dingin. Pada pagi harinya, matahari terbit dengan cahaya yang lemah dan tidak menyilaukan."
    (HR. Ibnu Khuzaimah, no. 2196; dishahihkan Al-Albani)

  2. Malam yang Penuh Ketenangan dan Kedamaian Allah ﷻ berfirman:

    "Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar."
    (QS. Al-Qadr: 3-5)

    Dalam ayat ini, disebutkan bahwa malam tersebut dipenuhi kesejahteraan dan keberkahan hingga fajar.

  3. Matahari Terbit Tanpa Cahaya yang Silau
    Dari Ubay bin Ka’ab, Rasulullah ﷺ bersabda:

    "Keesokan harinya, matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan, seperti nampan yang datar."
    (HR. Muslim, no. 762)

  4. Tidak Panas dan Tidak Berangin Kencang
    Dalam riwayat lain:

    "Lailatul Qadr adalah malam yang cerah, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak ada hujan, dan tidak ada angin kencang."
    (HR. Ath-Thabrani)


Keutamaan Lailatul Qadr

  1. Lebih Baik dari Seribu Bulan
    Allah ﷻ berfirman:

    "Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."
    (QS. Al-Qadr: 3)

    Amalan yang dilakukan pada malam ini setara dengan beribadah selama lebih dari 83 tahun.

  2. Diampuni Dosa-Dosa yang Lalu
    Rasulullah ﷺ bersabda:

    "Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
    (HR. Bukhari, no. 1901; Muslim, no. 760)


Kapan Terjadinya Lailatul Qadr?

Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, pada malam-malam ganjil."
(HR. Bukhari, no. 2017; Muslim, no. 1169)

Semoga kita semua dimudahkan untuk meraih Lailatul Qadr dengan amalan yang ikhlas dan penuh keimanan. 🤲

Minggu, 12 Maret 2023

Lalilatul qadr

https://t.me/joinchat/dy286onyR2FhZWU1


قال أحد الصالحين :
لا تلتمسوا ليلة القدر فقط بين أعمدة المساجد، وختمات المصاحف
بل إلتمسوها أيضاً في :
صلة الأرحام
و برّ الوالدين
و رفع المظالم
و ردّ الحقوق
و تفريج الكروب
و ترك الذنوب
و مساعدة الفقراء
و نصرة الضعفاء
و أداء الأمانات
و طيب الكلام
و حسن الأخلاق
( فتّشوا عن ليلة القدر في ضمائركم، قبل مساجدكم  )

Jangan kalian mencari keutamaan lailatul qodr hanya dengan beribadah di masjid atau pun dengan menghatamkan al-Qur'an, akan tetapi carilah juga keutamaan lailatul qodr itu dengan menyambung silaturahmi, berbakti kepada kedua orang tua, menghilangkan kedholiman, mengembalikan hak orang lain, melapangkan bencana, meninggalkan perbuatan dosa, membantu kaum faqir, menolong kaum lemah, menunaikan amanah, berbicara dengan baik, dan berakhlak yang baik.
(Periksalah tentang lailatul qodr dalam diri kalian sebelum kalian mencari keutamaannya di dalam masjid-masjid kalian).

Sumber:
https://t.me/joinchat/6s99Gt_bf8kxYzE9

5 Keistimewaan bertakwa

  Berikut beberapa ayat Al-Qur’an tentang keistimewaan orang bertakwa (المتقون) , lengkap dengan teks Arab dan penjelasan singkat, padat, da...